Tata Langkah dan Niat Bayar Fidyah untuk Mengganti Puasa Ramadhan Komplet

0
Tata Langkah dan Niat Bayar Fidyah untuk Mengganti Puasa Ramadhan Komplet belo4d, Jakarta - Seorang muslim yang tinggalkan puasa Ramadhan bisa menjadi hutang yang wajib dibayarkan pada bulan lain. Langkah menukar hutang puasa bisa dilaksanakan mengqadha dan bayar fidyah.

Tata Langkah dan Niat Bayar Fidyah untuk Mengganti Puasa Ramadhan Komplet belo4d, Jakarta - Seorang muslim yang tinggalkan puasa Ramadhan bisa menjadi hutang yang wajib dibayarkan pada bulan lain. Langkah menukar hutang puasa bisa dilaksanakan mengqadha dan bayar fidyah.

Tata Langkah dan Niat Bayar Fidyah untuk Mengganti Puasa Ramadhan Komplet

belo4d, Jakarta – Seorang muslim yang tinggalkan puasa Ramadhan bisa menjadi hutang yang wajib dibayarkan pada bulan lain. Langkah menukar hutang puasa bisa dilaksanakan mengqadha dan bayar fidyah.

Qadha puasa Ramadhan dilaksanakan beberapa hari yang ditinggal pada puasa Ramadhan. Begitu juga dengan fidyah. Perbedaannya ialah bila mengqadha bermakna menukar dengan puasa, dan bila fidyah dibayar satu mud untuk sehari puasa yang ditinggal.

Tetapi harus dipahami, tidak seluruhnya orang yang tinggalkan puasa Ramadhan dapat bayar hutang puasanya dengan fidyah. Ada banyak barisan yang sudah ditetapkan dalam fiqih, mereka yang cukup hanya qadha saja, qadha dan fidyah, fidyah saja, dan tidak ke-2 nya.

Mencuplik keterangan Syekh Nawawi dalam Syarah Kasyifatus-Saja dan situs NU Online, yang termasuk dalam kelompok harus bayar fidyah sebagai mengganti puasa Ramadhan ialah orangtua renta, orang sakit kronis, wanita hamil atau menyusui, orang yang mengakhirkan qadha Ramadhan, dan orang mati.

Bagaimana tata langkah bayar fidyah sebagai mengganti puasa Ramadhan? Berkaitan ini, silahkan baca pembahasan Dewan Pembimbing Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Ustadz M. Mubasysyarum Bih yang termuat di situs Keislaman Nahdlatul Ulama, dinukil Kamis (29/2/2024).

Kandungan, Tipe, dan Peruntukan Fidyah

Kandungan dan tipe fidyah yang dikerjakan ialah satu mud makanan dasar untuk tiap hari puasa yang ditinggal. Makanan dasar untuk sebagian besar warga Indonesia ialah beras. Ukuran mud jika dikonversikan ke perhitungan gr ialah 675 gr atau 6,75 ons.

Ini bertumpu pada perhitungan yang kondang, salah satunya disebut oleh Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab al-Fiqih al-Islami wa Adillatuhu. Sementara menurut perhitungan Syekh Ali Jumah dalam kitab al-Makayil wa al-Mawazin al-Syar’iyyah, satu mud ialah 510 gr atau 5,10 ons.

Peruntukan Fidyah

Fidyah wajib diberikan ke fakir atau miskin, tidak dibolehkan untuk kelompok mustahiq zakat lainnya, ditambah ke orang kaya. Peruntukan fidyah berlainan dengan zakat, karena nash Al-Qur’an dalam kerangka fidyah cuma menyebutkan miskin “fa fidyatun tha‘âmu miskin” (QS al-Baqarah ayat 184). Dan fakir dianalogikan miskin dengan skema qiyas aulawi (qiyas lebih utama), karena keadaan fakir lebih kronis dibanding miskin (Syekh Khothib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 176).

Per satu mud untuk tiap hari puasa yang ditinggal adalah beribadah yang terpisahkan/mandiri, oleh karena itu dibolehkan membagikan sejumlah mud untuk sejumlah puasa yang ditinggal ke seseorang fakir/miskin. Seumpama fidyah puasa orang mati 10 hari, karena itu 10 mud semua bisa diberikan ke seseorang miskin.

Berlainan hal dengan 1 mud untuk porsi pembayaran fidyah satu hari, tidak dibolehkan diberikan ke 2 orang atau lebih. Seumpama fidyah puasa wanita menyusui satu hari, karena itu satu mud fidyah jangan dipisah dua untuk diberikan ke 2 orang fakir. Begitupun, fidyah puasa ibu hamil dua hari tidaklah cukup diberikan ke empat orang miskin.

Syekh Khathib al-Syarbini menerangkan:

(وله صرف أمداد) من الفدية (إلى شخص واحد) لأن كل يوم عبادة مستقلة، فالأمداد بمنزلة الكفارات، بخلاف المد الواحد فإنه لا يجوز صرفه إلى شخصين؛ لأن كل مد فدية تامة، وقد أوجب الله تعالى صرف الفدية إلى الواحد فلا ينقص عنها
Maknanya: “Bisa membagikan sejumlah mud dari fidyah ke seseorang, karena masing-masing hari ialah beribadah yang menyendiri, karena itu sejumlah mud ditempatkan seperti sejumlah kafarat, berlainan dengan 1 mud (untuk sehari), jadi tidak bisa diberikan ke 2 orang, karena tiap mud ialah fidyah yang prima. Allah sudah mengharuskan peruntukan fidyah ke seseorang, hingga jangan kurang dari jumlahnya itu. ” (Syekh Khothib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 176).

Tata Langkah dan Niat Fidyah Puasa Ramadhan

Fidyah ialah beribadah yang terkait dengan harta, hingga diisyaratkan niat dalam realisasinya seperti zakat dan kafarat.

Disebut dalam himpunan fatwa Imam Muhammad al-Ramli:

(سئل) هل يلزم الشيخ الهرم إذا عجز عن الصوم وأخرج الفدية النية أم لا
“Imam al-Ramli ditanyakan, apa orangtua renta yang kurang kuat berpuasa dan keluarkan fidyah wajib niat atau mungkin tidak?”

(فأجاب) بأنه تلزمه النية لأن الفدية عبادة مالية كالزكاة والكفارة فينوي بها الفدية لفطره
“Imam al-Ramli menjawab jika dia wajib niat fidyah, karena fidyah ialah beribadah harta seperti zakat dan kafarat, karena itu niatkanlah keluarkan fidyah karena tidak berpuasa Ramadhan” (Syekh Muhammad al-Ramli, Fatawa al-Ramli, juz 2, hal. 74).

Berikut contoh tata langkah niat dalam penunaian fidyah:

Contoh niat fidyah puasa untuk orang sakit keras dan orangtua renta:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ لإِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Maknanya: “Saya niat keluarkan fidyah ini karena buka puasa pada bulan Ramadhan, fardhu karena Allah.”

Contoh niat fidyah untuk wanita hamil atau menyusui:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ إِفْطَارِ صَوْمِ رَمَضَانَ لِلْخَوْفِ عَلَى وَلَدِيْ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Maknanya: “Saya niat keluarkan fidyah ini dari tanggungan buka puasa Ramadhan karena cemas keselamatan anaku, fardhu karena Allah.”

Contoh niat fidyah puasa orang mati (dilaksanakan oleh wali/pakar waris):

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ صَوْمِ رَمَضَانِ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Maknanya: “Saya niat keluarkan fidyah ini dari tanggungan puasa Ramadhan untuk Fulan bin Fulan (disebut nama mayitnya), fardhu karena Allah.”

Contoh niat fidyah karena telat mengqadha puasa Ramadhan:

نَوَيْتُ أَنْ أُخْرِجَ هٰذِهِ الْفِدْيَةَ عَنْ تَأْخِيْرِ قَضَاءِ صَوْمِ رَمَضَانَ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
Maknanya: “Saya niat keluarkan fidyah ini dari tanggungan ketertinggalan mengqadha puasa Ramadhan, fardhu karena Allah.”

Niat fidyah bisa dilaksanakan saat memberikan ke fakir/miskin, waktu memberi ke wakil atau sesudah memisah beras yang akan dikerjakan sebagai fidyah. Ini seperti ketetapan dalam bab zakat.

Fidyah puasa untuk orang mati dibolehkan dilaksanakan kapan pun, tidak ada ketetapan waktu khusus dalam fiqih turats. Dan fidyah puasa untuk orang sakit keras, tua renta dan ibu hamil/menyusui dibolehkan dikeluarkan sesudah subuh untuk tiap hari puasa, bisa sesudah terbenamnya matahari pada malam harinya, bahkan juga paling utama di permulaan malam. Bisa diakhirkan pada hari selanjutnya atau di luar bulan Ramadhan.

Tidaklah cukup keluarkan fidyah saat sebelum Ramadhan, pun tidak resmi saat sebelum masuk waktu maghrib untuk tiap hari puasa.

Singkatnya, waktu penerapan fidyah minimum telah masuk malam hari (terbenamnya matahari) untuk tiap hari puasa, bisa dilaksanakan sesudah waktu itu.

Al-Imam Muhammad al-Ramli sebelumnya pernah ditanyakan hal tata langkah niat fidyah untuk orangtua renta seperti berikut:

وما كيفيتها وما كيفية إخراج الفدية هل يتعين إخراج فدية كل يوم فيه أو يجوز إخراج فدية جميع رمضان دفعة سواء كان في أوله أو في وسطه أو لا؟
Maknanya: “Bagaimanakah cara niat fidyah? Bagaimanakah cara keluarkan fidyah, apa jadi kewajiban keluarkan fidyah tiap hari dalam hari itu? Bolehkah keluarkan fidyah keseluruhnya Ramadhan dengan sekalian, pada awal Ramadhan atau tengahnya?”.

Beliau menjawab:

ويتخير في إخراجها بين تأخيرها وبين إخراج فدية كل يوم فيه أو بعد فراغه ولا يجوز تعجيل شيء منها لما فيه من تقديمها على وجوبه لأنه فطرة.
Dia (orangtua renta) dikenankan pilih di antara mengakhirkan penunaian fidyah dan keluarkan fidyah di sehari-harinya, dalam hari itu atau sesudah selesainya hari itu. Jangan percepat fidyah dari saat-saat itu, karena ada elemen memprioritaskan fidyah dari kewajibannya seorang, yakni buka puasa” (Syekh Muhammad al-Ramli, Fatawa al-Ramli, juz 2, hal. 74).

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menerangkan:

(ولا يجوز) للهرم والزمن ومسن اشتدت مشقة الصوم علیه وللحامل والمرضع (تعجيل المد قبل رمضان) بل لا يجوز تعجیل فدية يوم قبل دخول ليلته، كما لا يجوز تعجيل الزكاة لعامين. (ويجوز) التعجيل (بعد فجر كل يوم) من رمضان، بل يجوز بعد غروب الشمس في ليلة كل يوم بل يندب في أول ليلة
Maknanya: “Jangan untuk orang benar-benar tua, orang pincang, orang berusia yang alami kelelahan berpuasa, ibu hamil dan ibu menyusui, percepat penunaian fidyah satu mud saat sebelum Ramadhan, bahkan juga jangan percepat fidyah untuk hari tertentu saat sebelum masuk malamnya, seperti jangan percepat penunaian zakat untuk saat 2 tahun.

Bisa percepat fidyah sesudah terbitnya fajar pada setiap hari dari bulan Ramadhan, bahkan juga bisa percepat fidyah sesudah terbenamnya matahari di saat malam untuk sehari-harinya, bahkan juga sunah dikerjakan di permulaan malam.” (Syekh Nawawi al-Bantani, Qut al-Habib al-Gharib, hal. 223).

Seperti keterangan di atas, harta yang dikeluarkan untuk fidyah diisyaratkan berbentuk makanan dasar wilayah di tempat. Tidaklah cukup memakai harta tipe yang lain bukan makanan dasar, seumpama uang, daging, tempe, dan sebagainya. Ini ialah opini mayorits ulama mazhab empat, yakni Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.

Opini ini berpendapat dengan nash syariat yang tegas memerintah untuk memberikan makanan dasar ke fakir/miskin, bukan memberikan tipe lain (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqih al-Islami wa Adillatuhu, juz 9, hal. 7156).

Dan menurut Hanafiyah, fidyah bisa dikerjakan berbentuk qimah (nominal) yang sama dengan makanan yang diterangkan dalam nash Al-Qur’an atau hadits, contohnya dikerjakan berbentuk uang. Ulama Hanafiyyah condong lebih kendur pahami teks-teks alasan agama yang mengharuskan pemberian makan ke fakir miskin. Menurut dia, tujuan pemberian makanan untuk fakir miskin ialah penuhi keperluan mereka, dan tujuan itu dapat terwujud dengan bayar qimah (nominal harta) yang sesuai dengan makanan. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqih al-Islami wa Adillatuhu, juz 9, hal. 7156).

Advertised: belo4d, situs slot, casino, sabung ayam dan toto togel online, sudah pasti teraman, terpercaya member wede pasti cair dalam 2 menit saja !

Ide tipe makanan dasar yang dinominalkan versus Hanafiyyah terbatas pada beberapa jenis makanan yang tertera secara eksplisit dalam hadits Nabi, yakni kurma, al-burr (gandum)/tepungnya, anggur, dan al-sya’ir (jerawut). Hanafiyyah tidak menggunakan standard makanan dasar sama sesuai wilayah masing-masing.

Adapun kandungannya ialah satu sha’ untuk tipe kurma, jerawut, dan anggur (menurut beberapa opini, kandungannya anggur ialah 1/2 sha’). Dan gandum atau tepungnya ialah 1/2 sha’ untuk tiap hari puasa yang ditinggal. Singkatnya, ketetapan kandungan, tipe dan kemampuan menjalankan qimah dalam fidyah menurut sudut pandang Hanafiyah sama dengan ketetapan dalam bab zakat fitrah (Syekh Ahmad bin Muhammad al-Thahthawi al-Hanafi, Hasyiyah ‘ala Maraqil Falah, hal. 688).

Ukuran satu sha’ menurut Hanafiyyah menurut perhitungan versus Syekh Ali Jum’ah dan Muhammad Hasan ialah 3,25 kg, bermakna 1/2 sha’ ialah 1,625 kg. Dan menurut perhitungan versus Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqih al-Islami ialah 3,8 kg, bermakna 1/2 sha’ ialah 1,9 kg.

Dengan begitu, langkah menjalankan fidyah dengan uang versus Hanafiyyah ialah nominal uang yang sepadan pada harga kurma, anggur atau jerawut, seberat satu sha’ (3,8 kg atau 3,25 kg) untuk setiap hari puasa yang ditinggal, selainnya berlaku kelipatan puasa yang ditinggal. Juga bisa menggunakan nominal gandum atau tepungnya seberat 1/2 sha’ (1,9 kg atau 1,625 kg) untuk setiap hari puasa yang ditinggal, selainnya berlaku kelipatan puasa yang ditinggal.

Begitu keterangan komplet berkenaan tata langkah dan niat bayar fidyah untuk menukar puasa Ramadhan. Mudah-mudahan berguna. Wallahu a’lam. (Sumber: islam.nu.or.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *