Faksi Ini Tidak Bahagia RI Merdeka dan Ingin Hidup di Saat Penjajahan

0

Jakarta, Komunitas server gacor – Saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sebagian besar masyarakat bersuka cita. Proklamasi mengidentifikasi diawalinya set kehidupan baru yang bebas dari belenggu kolonialisme. Semenjak itu, masyarakat berpadu-padu mengawali cara baru untuk merealisasikan Indonesia jadi negara besar.
Sayang, waktu mengawali itu semua, Belanda mendadak tiba ingin menjajah lagi. Terjadi perang yang membuat semua masyarakat ‘turun gunung’ menantang Belanda. Di titik berikut kekacauan terjadi dimana saja yang membuat kelompok-kelompok masyarakat malah ingin kembali di jajah Belanda atau hidup di jaman normal.

Mengarah paparan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya (2005), jaman normal mengarah pada kehidupan saat sebelum penjajahan Jepang ataupun waktu saat kekuasaan pemerintahan penjajahan Belanda. Normal tujuannya jalan seperti umumnya, baik itu keadaan politik, ekonomi, sosial dan budaya. Semua faktor itu terbangun dan teratur secara baik di kota atau dusun.

Di periode itu, segalanya serba nikmat. Tidak ada perang dan pertumpahan darah. Semua itu bertolak-belakang dengan yang terjadi di periode Perang Kemerdekaan. Atas dasar berikut, kata Denys Lombard, ada sebagian kecil orang Jawa dan Sumatera yang dipengaruhi Barat pada akhirnya jadi penganut Ratu Belanda sampai akhir hayat. Mereka yang tidak memihak disebelah Indonesia ikhlas jual harta bendanya agar dapat pergi dan habiskan waktu di Amsterdam.

Tidak itu saja, ketidaksamaan ini dirasa benar oleh orang yang bekerja untuk pemerintahan penjajahan, seperti tentara. Dalam paparan buku Serdadu Belanda di Indonesia, 1945-1950 (2016), ada seorang tentara yang mengeluhkan kesejahteraannya turun selesai bekerja untuk pemerintahan Indonesia. Bila saat bekerja untuk Ratu Belanda ia cukup berbahagia, karena itu sekarang tak lagi begitu. Ia harus bertahan hidup dengan uang seadanya.

Hal ini dirasa oleh beberapa karyawan penjajahan. Hidup mereka saat itu juga berbeda selesai pemerintahan Belanda keluar. Hidup mereka yang terhormat langsung pupus demikian saja. Begitupun yang dirasakan oleh beberapa priayi atau bangsawan. Bila dalam susunan penjajahan masyarakat jelata harus runduk ke mereka, karena itu sesudah merdeka semua berbeda.

Bahkan juga posisi dan hidupnya remuk sesudah kemerdekaan. Ada juga sebagai korban kekerasan dan balas sakit hati dari masyarakat biasa. Seperti dirinci Freek Colombijn dalam Under Construction (2010), mereka ingin hidup di jaman Belanda saat kehidupan normal. Semua masyarakat taat ke hukum dan mereka terlindung dari kekerasan masyarakat biasa.

Atas dasar berikut, kemerdekaan Indonesia ternyata tidak diimbangi oleh keceriaan semua masyarakat. Untuk beberapa pihak yang telah disebut, kemerdekaan sama dengan kemerosotan hidupnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *